kesetiaan
Setiap manusia memiliki pilihan terhadap hidupnya. Ada yang menginginkan komitmen ada pula yang tidak. Ada yang ingin selalu memiliki kekasih untuk menemaninya atau ada yang sekedar ingin memiliki status ‘punya pacar’. Ada juga sebagian yang merasa tidak sebegitu penting untuk berpacaran selama teman yang dimiliki segudang. Tidak ada yang salah untuk menjadi seorang single.
Pada saat kita single tentunya banyak sekali kesempatan2 pertemanan. Semua terbuka lebar. Selama kita bersikap ramah dan baik pastinya akan selalu ada teman yang mendampingi kita. Berbagi suka dan tawa. Benar-benar menyenangkan.
Setelah umur kita semakin bertambah tentunya kita mulai tertarik untuk mencari teman dekat yang sekiranya akan menjadi teman terbaik untuk menjadi pasangan hidup kita. Bukan sebuah mimpi. Sebuah harapan yang mungkin disaat tertentu terasa begitu muluk. Bagaimana mungkin bisa menemukan seseorang yang akan mengerti dan menerima mimpi mimpi kita. Bagaimana mungkin bisa menemukan seseorang yang akan membantu kita untuk mewujudkan mimpi itu? Atau, apakah bisa kita menerima kekurangan kekurangan yang dimiliki pasangan kita?, Berapa lama? Bisakah kita setia terhadap pasangan kita? Kalo bisa untuk Berapa lama? Nah lo…
Hubungan pertemanan tidaklah serumit hubungan antara sepasang kekasih. Mungkin karena ada rasa saling memiliki yang lebih. Kamu pacar saya, ato kamu istri saya sehingga timbul kesan “kamu milik saya”. Dari sana kita pun dituntut untuk setia. Setia menemani, setia berbagi suka dan duka juga setia terhadap hati.
Bagaimana bentuk setia dengan hati pasti sudah jelas. Selama kita berpasangan/menikah kita tidak boleh menduakan hati kita kepada orang lain. Sulitkah? Tentu tidak. Selama kita berniat baik terhadap pasangan kita semua akan mengalir dengan mudah. Tidak peduli kita cantik atau tampan seperti apa sehingga orang lain mudah jatuh hati kepada kita, kita akan tetap berlaku setia terhadap pasangan kita. Kita tidak akan tergoda untuk mencoba membuka hati kita untuk yang lain.
Memang hal yang lumrah untuk selalu tertarik kepada hal hal yang baik dan menarik. Dikala kita mengenal kekurangan pasangan, kita dituntut untuk menerimanya sepenuh hati. Tentunya tidak salah, berharap adanya pengertian dari pasangan untuk mau memperbaiki diri dan meningkatkan kemampuan diri sehingga akan terlihat selalu menarik. Orang yang selalu belajar dan meninggikan mutu diri pasti dan selalu terlihat lebih menarik, bukan?. Namun apabila harapan tersebut belum terlaksana tidaklah serta merta kita mempunyai hak untuk membuka hati kita untuk hati yang lain. Rasanya, terlalu mudah kita menyerah. Terlalu sedikit penghargaan kita terhadap pasangan kita apabila kita bertindak seperti itu. Masalah yang sebenarnya tidaklah dicoba untuk diperbaiki malahan kita mencari sesuatu diluar jalur yang kita sendiri tidak tahu akan kemana ujungnya.
Cinta memang sangat indah karena bernilai baik. Jatuh cinta jauh lebih indah karena harapan dan rasa yang ada dibungkus dengan segala keindahan sikap menanggapinya. Cinta adalah anugrah. Kita memang tidak pernah tahu kapan datangnya cinta. Tapi yang pasti –diakui atau tidak- kitalah yang membuka peluang cinta itu datang. Sangatlah tidak fair apabila kita menyalahkan kepada ‘kata cinta’ –seakan akan bukan keinginan kita untuk merasakannya, padahal kita sedang berselingkuh dengan hati pasangan kita….
Kesetiaan itu memang harus diusahakan. Dengan mudahnya kita dapat berkomunikasi saat ini, sangatlah mudah kita untuk berhubungan dengan orang lain. Mengutip apa kata teman saya- Begitu dekatnya kita dengan masa lalu kita atau mungkin dengan masa depan tapi pada saat yang bersamaan kita terisolasi dari saat ini. Jangan sampai kita terjebak karena kemudahan bergaul jadi salah gaul. Cinta memang butuh pengorbanan. Selama antar pasangan sama sama berniat baik terhadap masa depan dengan tetap berada di jalurnya dan melaksanakan kewajiban masing masing tidak ada salahnya untuk terus berusaha… love maybe blind so it takes common sense to live in it.
Comments
Post a Comment